Satwa dengan nama yang unik

1. IKAN PAUS SPERMA

Klasifikasi ilmiah
• Kerajaan: Animalia
• Filum: Chordata
• Kelas: Mammalia
• Ordo: Cetacea
• Upaordo: Odontoceti
• Famili: Physeteridae
• Genus: Physeter
• Spesies: P. macrocephalus

    Paus Sperma (Physeter macrocephalus) adalah hewan terbesar dalam kelompok paus bergigi sekaligus hewan bergigi terbesar di dunia. Paus ini dinamakan karena bahan putih susu spermaceti yang terdapat pada kepalanya, dan pada awalnya dikira sebagai sperma. Kepala Paus Sperma yang besar dan bentuk keseluruhannya yang berbeda, ditambah lagi kemunculannya dalam novel Moby-Dick yang ditulis oleh Herman Mellville, membuatnya dikenal sebagai paus arketipe (archetype).

    Sebagian karena Melville, Paus Sperma sering dihubungkan dengan Leviathan semi mistis dari cerita-cerita Alkitab.

    Paus Sperma juga dulu dikenal sebagai Common Cachalot.

    Deskripsi fisik

    Ciri khas dari Paus Sperma adalah kepalanya yang besar, lebih-lebih untuk pejantannya, yang biasanya bisa mencapai sepertiga daripada panjang badanya. Nama spesiesnya sendiri macrocephaluss diambil dari bahasa Yunani untuk “kepala besar”. Berbeda dengan kulit licin yang dimiliki oleh kebanyakan paus lain, kulit bagian belakang paus sperma biasanya berkedut. Mereka bewarna abu-abu walaupun kadang kelihatan berwarna coklat dibawah cahaya matahari (“Great White Whale” dalam novel Melville, kalaupun ada, kemungkinan adalah albino). Tidak mengherankan kalau otak Paus Sperma adalah yang terbesar dan terberat bagi semua hewan (berat rata-ratanya 7 kg dalam paus jantan dewasa). Namun, otak Paus Sperma adalah tidak begitu besar jika dibandingkan dengan ukuran badannya.

    Lubang pernafasan (blowhole) terletak berdekatan dengan bagian depan kepala dan condong ke kiri (jika dilihat dari arah yang sama dengan paus). Ini memberikan ciri-ciri hembusan berkembang yang jelas kearah depan. Sirip belakangnya terletak sekitar dua pertiga dari bawah tulang belakang dan biasanya pendek dan berbentuk segitiga sama kaki. Flukenya juga berbentuk segitiga dan amat tebal. Flukenya diangkat tinggi tinggi dari air sebelum paus melakukan penyelaman dalam.

    Paus Sperma mempunyai 20-26 pasang gigi kerucut pada rahang bawah mereka. Setiap gigi bisa mempunyai berat sampai satu kilogram. Asal bentuk gigi ini tidaklah diketahui dengan pasti. Dipercayai bahwa gigi-gigi tersebut tidak diperlukan untuk mengkonsumsi sotong, malah ada Paus Sperma liar yang sehat dan cukup makan namun tidak bergigi. Konsensus para ilmuwan masa kini adalah gigi-gigi tersebut mungkin digunakan dalam pertengkaran antara paus jantan dalam spesies yang sama. Hipotesis ini konsisten dengan gigi yang berbentuk kerucut dan jarang-jarang. Gigi yang belum sempurna juga terdapat di bagian rahang atas, namun gigi tersebut jarang tumbuh dan terlihat di mulut

    2. SEMUT PELURU

    Klasifikasi Ilmiah
    Kerajaan : Animalia
    Filum : Artropoda
    Kelas : Insekta
    Ordo: Hymenoptera
    Keluarga : Formicidae
    Genus : Paraponera
    Spesiesnya : Paraponera clavata (bullet ant)

    Semut peluru adalah sebutan baginya. nama ini muncul karena sengatannya yang sangat kuat dan meninggalkan racun menyakitkan. Rasa sakit bagaikan terkena tembakan peluru.
    Rasa sakit yang dibarengi rasa terbakar dan perih itu bisa berlangsung selama 24 jam.

    Ia tergolong semut primitif yang tetap bertahan dengan insting bertahan hidup yang primitif juga. Para ahli meyakini bahwa semut peluru adalah salah satu spesies semut tertua yang masih bertahan hidup hingga abad 21 ini.

    Walau reputasinya menakutkan, semut-semut peluru sebenarnya serangga yang cinta damai. Lebih suka menghindari konflik dan bersarang di bawah pohon berkayu. Ia membentuk koloni besar yang berjumlah ribuan semut dalam satu sarang.

    Ukuran tubuh semut peluru memang terbilang “raksasa” untuk semut. Rata-rata berukuran 1,8 cm – 2,5 cm, untuk semut peluru kelompok pekerja. Itu masih dilengkapi dengan capit berukuran besar dan kuat. Karena itu ia punya julukan lain sebagai giant tropical ant (semut tropis raksasa).

    Kebiasaan hidup semut ini tak jauh beda dengan semut-semut lainnya. Bekerja secara berkelompok, melakukan pembagian manajemen yang sempurna, membangun sarang berkamar di bawah tanah, dan mengelompokkan anggota koloni dalam kasta-kasta.

    Pembedanya barangkali karena semut peluru cenderung lebih suka berburu pada musim-musim tertentu. Walau kesehariannya ia juga mengumpulkan air, nektar, serpihan tumbuhan, tetapi ia sangat gemar berburu daging segar atau menjarah bangkai. Maka ia juga menyandang istilah keren predator – scavenger.

    Mangsa utama semut-semut peluru adalah serangga lain yang lebih lambat dan lemah. Namun dalam daftar menunya terdapat jenis arthropoda (hewan berbuku an berkaki banyak) dan invertebrata (hewan tak bertulang belakang), atau sesekali vertebrata (hewan bertulang belakang) kecil yang malang. Jika dirasa perlu, batalion semut peluru juga mampu menyerang koloni lebah. Tujuannya untuk merampok sarang dan mencicip madu!

    Perburuan intens dilakukan oleh semut-semut pekerja, namun pengintaian di teritori mereka dilakukan oleh semut penjelajah (tracker).

    Senjata ampuh semut-semut peluru adalah jepitan rahang yang kuat dan racun kimia yang mengalir ke pembuluh saraf. Efek sebuah sengatan adalah rasa terbakar, sakit luar biasa, mati rasa, dan kejang.

    Ritual Menyakitkan yg Menggunakan Semut Ini

    Sebuah suku yg disebut Satere-Mawe di Brazil menggunakan semut ini untuk ritual ‘pendewasaan’. Laki2 yg dianggap akan memasuki usia dewasa, diwajibkan melakukan ritual ini. Jadi pertama2 mereka menangkap semut2 ini, terus dimasukin ke sebuah sarung tangan. Lalu, laki2 yg diritualkan harus masukin tangannya ke dalem sarung tangan yang berisi puluhan bahkan ratusan semut ini dan harus menahan sakitnya tanpa berteriak. Mau tau berapa lama mereka harus masukin tangannya ? Sepuluh menit !!!. Lengan anak laki-laki yang melakukan ritual ini biasanya lumpuh sementara akibat racun dan tubuh mereka bisa menggigil selama beberapa hari.

    Semut peluru, cenderung non agresif. Ia hanya melakukan serangan bila sarangnya diganggu, teritorinya diusik, atau jika tubuhnya disentuh. Jika hal itu terjadi maka semut-semut peluru akan melakukan serangan mematikan, baik secara pribadi mau pun berkelompok.

    3. KONGKAN JERAM

    Klasifikasi ilmiah
    • Kerajaan: Animalia
    • Filum: Chordata
    • Kelas: Amphibia
    • Ordo: Anura
    • Famili: Ranidae
    • Genus: Huia
    • Spesies: H. masonii
    Kongkang jeram adalah nama sejenis kodok dari suku Ranidae. Nama ilmiahnya adalah Huia masonii Boulenger, 1884; diberikan untuk mengenang Mason, seorang naturalis Inggris. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Javan torrent-frog (Iskandar, 1998).

    Kodok yang bertubuh sedang dan ramping, panjang tubuh antara 30-50 mm SVL (snout-to-vent length, dari ujung moncong hingga ke anus). Kodok jantan lebih kecil dari kodok betina. Kaki kurus dan sangat panjang, mengingatkan pada kaki belakang belalang.

    Sisi dorsal (punggung) kecoklatan atau coklat hijau zaitun, sering dengan bercak-bercak berwarna gelap atau terang. Kulit punggung halus. Lipatan dorsolateral tidak begitu jelas, terputus-putus, dan berbintik-bintik gelap atau hitam. Satu pita hitam berjalan dari depan mata ke belakangnya di sekitar timpanum (gendang telinga) sampai ke bahu. Sisi luar tangan dan kaki dengan belang-belang gelap atau kehitaman. Sisi ventral (perut) berwarna putih.

    Bibir bergaris-garis samar. Timpanum berwarna daging dan melekuk di tengahnya. Jari-jari tangan dan kaki dengan piringan yang melebar.

    Kebiasaan dan penyebaran

    Kodok ini terutama hidup di sekitar sungai kecil dan anak sungai yang berarus deras di hutan-hutan primer dan sekunder. Aktif di malam hari (nokturnal), kongkang jeram menyukai sungai berbatu-batu dan berair jernih. Kodok jantan menggunakan batu-batu besar atau kayu yang melintang di tengah sungai sebagai tempatnya bertengger dan bersuara memanggil betinanya. Pada saat bulan purnama, jantan tinggal di antara rerumputan di tepi sungai.

    Kongkang jeram adalah jenis yang endemik di Jawa. Iskandar (1998) memperlihatkan jenis ini banyak tercatat dari daerah pegunungan, seperti Gunung Salak (Ciapus), G. Gede (Perbawati, Cibodas), G. Halimun (Citalahab), Bandung (Lembang, Maribaya), G. Slamet (Baturraden), G. Ungaran, dan Peg. Tengger. Meskipun spesimen tipe jenis ini tercatat berasal dari Batavia (Jakarta), yang terletak dekat laut.

    Kurniati (2003) mengamati di G. Halimun kongkang jeram terutama menyebar antara ketinggian 800-1.000 m dpl., sementara di G. Gede mencapai 2.000 m dpl.

    Kodok ini berstatus ‘Rentan’ (Vulnerable) menurut IUCN, karena sebarannya yang terbatas dan habitatnya yang terus menyusut oleh sebab aktivitas manusia.

    4. COELACANTH

    Klasifikasi ilmiah
    • Kerajaan: Animalia
    • Filum: Chordata
    • Kelas: Sarcopterygii
    • Upakelas: Actinistia
    • Infrakelas: Coelacanthimorpha
    • Ordo: Coelacanthiformes
    Berg, 1937
    Coelacanth (artinya “duri yang berongga”, dari perkataan Yunani coelia, “κοιλιά” (berongga) dan acanthos, “άκανθος” (duri), merujuk pada duri siripnya yang berongga) IPA: [ˈsiːləˌkænθ] adalah nama ordo (bangsa) ikan yang antara lain terdiri dari sebuah cabang evolusi tertua yang masih hidup dari ikan berahang. Coelacanth diperkirakan sudah punah sejak akhir masa Cretaceous 65 juta tahun yang lalu, sampai sebuah spesimen ditemukan di timur Afrika Selatan, di perairan sungai Chalumna tahun 1938. Sejak itu Coelacanth telah ditemukan di Komoro, perairan pulau Manado Tua di Sulawesi, Kenya, Tanzania, Mozambik, Madagaskar dan taman laut St. Lucia di Afrika Selatan. Di Indonesia, khususnya di sekitar Manado, Sulawesi Utara, spesies ini oleh masyarakat lokal dinamai ikan raja laut.

    Coelacanth terdiri dari sekitar 120 spesies yang diketahui berdasarkan penemuan fosil.

    Fosil hidup

    Sampai saat ini, telah ada 2 spesies hidup Coelacanth yang ditemukan yaitu Coelacanth Komoro, Latimeria chalumnae dan Coelacanth Sulawesi (manado), Latimeria menadoensis.

    Hingga tahun 1938, ikan yang berkerabat dekat dengan ikan paru-paru ini dianggap telah punah semenjak akhir Masa Kretaseus, sekitar 65 juta tahun yang silam. Sampai ketika seekor coelacanth hidup tertangkap oleh jaring hiu di muka kuala Sungai Chalumna, Afrika Selatan pada bulan Desember tahun tersebut. Kapten kapal pukat yang tertarik melihat ikan aneh tersebut, mengirimkannya ke museum di kota East London, yang ketika itu dipimpin oleh Nn. Marjorie Courtney-Latimer. Seorang iktiologis (ahli ikan) setempat, Dr. J.L.B. Smith kemudian mendeskripsi ikan tersebut dan menerbitkan artikelnya di jurnal Nature pada tahun 1939. Ia memberi nama Latimeria chalumnae kepada ikan jenis baru tersebut, untuk mengenang sang kurator museum dan lokasi penemuan ikan itu.

    Pencarian lokasi tempat tinggal ikan purba itu selama belasan tahun berikutnya kemudian mendapatkan perairan Kepulauan Komoro di Samudera Hindia sebelah barat sebagai habitatnya, di mana beberapa ratus individu diperkirakan hidup pada kedalaman laut lebih dari 150 m. Di luar kepulauan itu, sampai tahun 1990an beberapa individu juga tertangkap di perairan Mozambique, Madagaskar, dan juga Afrika Selatan. Namun semuanya masih dianggap sebagai bagian dari populasi yang kurang lebih sama.

    Pada tahun 1998, enampuluh tahun setelah ditemukannya fosil hidup coelacanth Komoro, seekor ikan raja laut tertangkap jaring nelayan di perairan Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara. Ikan ini sudah dikenal lama oleh para nelayan setempat, namun belum diketahui keberadaannya di sana oleh dunia ilmu pengetahuan. Ikan raja laut secara fisik mirip coelacanth Komoro, dengan perbedaan pada warnanya. Yakni raja laut berwarna coklat, sementara coelacanth Komoro berwarna biru baja.

    Ikan raja laut tersebut kemudian dikirimkan kepada seorang peneliti Amerika yang tinggal di Manado, Mark Erdmann, bersama dua koleganya, R.L. Caldwell dan Moh. Kasim Moosa dari LIPI. Penemuan ini kemudian dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature. Maka kini orang mengetahui bahwa ada populasi coelacanth yang kedua, yang terpisah menyeberangi Samudera Hindia dan pulau-pulau di Indonesia barat sejauh kurang-lebih 10.000 km. Belakangan, berdasarkan analisis DNA-mitokondria dan isolasi populasi, beberapa peneliti Indonesia dan Prancis mengusulkan ikan raja laut sebagai spesies baru Latimeria menadoensis.

    Dua tahun kemudian ditemukan pula sekelompok coelacanth yang hidup di perairan Kawasan Lindung Laut (Marine Protected Areas) St. Lucia di Afrika Selatan. Orang kemudian menyadari bahwa kemungkinan masih terdapat populasi-populasi coelacanth yang lain di dunia, termasuk pula di bagian lain Nusantara, mengingat bahwa ikan ini hidup terisolir di kedalaman laut, terutama di sekitar pulau-pulau vulkanik. Hingga saat ini status taksonomi coelacanth yang baru ini masih diperdebatkan.

    Pada bulan Mei 2007, seorang nelayan Indonesia menangkap seekor coelacanth di lepas pantai Provinsi Sulawesi Utara. Ikan ini memiliki ukuran sepanjang 131 centimeter dengan berat 51 kg ketika ditangkap.

    Masih banyak sih kekayaan alam dunia yang menyimpan banyak pesona untuk kita pelajari…!!!!
    Salam lestari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: